UP SYSTEM : PEMERINTAH SEBAGAI SUPPORT ENTRANCE GENERASI
Rizky Ahmad Fahrezi
Generasi mewujudkan ketercapaian skill
yang dimiliki, melecutkan potensi sebagai harapan akan kehidupan gemilang di
kemudian hari, mencanangkan semangat dalam pelejitan esensi diri dan manifestasi
keberlangsungan posisi dalam bingkai aksi. Namun, setiap usaha pengingkatan skill
atau upgrading capacity yang dilakukan, membutuhkan pemberdayaan dan
ketertunjangan dari sistem. Keterkelolaan sistem menjadi tanggung jawab sang
pendekar kebijakan dimana ia adalah pemerintah. Pemerintah sebagai tangan yang
mengenggam suatu sistem, perlu untuk menjadi naungan dari segala bentuk kebijakan
peningkatan dan pemberdayaan generasi.
Pemerintah perlu mewujudkan
kebijakan ekspansif terkait peningkatan mutu dan kualitas sumber daya
masyarakat khususnya generasi muda, bukan hanya sekedar kebijakan tambal sulam
dimana hanya menembel kerusakan pada pengelolaan sebelumnya. Pemerintah perlu
untuk melek, menyadari, dan menyikapi berbagai sendi yang perlu ditindak
lanjuti dengan eksekusi presisi sebagai wujud pembangunan negeri untuk
masyarakat yang lebih berdikari progresi.
Realize
Sebagai
pemegang utama atas suatu sistem, pemerintah harus realize terhadap
beragam persoalan dan kebutuhan generasi. Berusaha menemukan, menyusuri,
menilik, dan menelaah potensi generasi muda serta pemberdayaannya. Menemukan
permasalahan yang menjadikan kendala adanya bagi perkembangan generasi.
Pemerintah
harus menyadari bahwasannya generasi muda merupakan investasi masa depan sebuah
bangsa. Merekalah yang kelak akan mengisi ruang-ruang proses berbangsa dan
bernegara. Generasi adalah pewaris masa depan, tulang punggung, serta harapan
bangsa dan negara tersokong di pundaknya.
Generasi muda merupakan
aset berharga bagi setiap peradaban dan memiliki peran vital dalam pembangunan
sosial serta inovasi. Dengan semangat, kreativitas, dan energi yang dimiliki, generasi
muda berpotensi menjadi agen perubahan yang signifikan dalam masyarakat.
Sebagai generasi yang memiliki energi, kreativitas, dan pikiran terbuka, pemuda
menjadi motor penggerak perubahan dalam Masyarakat.
Mereka memiliki
kemampuan untuk melihat permasalahan sosial dari sudut pandang yang baru dan
inovatif, sehingga dapat menghasilkan solusi-solusi yang lebih efektif dan
berkelanjutan. Dalam konteks pembangunan sosial, keterlibatan aktif generasi muda
dapat mempercepat proses transformasi masyarakat menuju kondisi yang lebih baik.
Selain itu, generasi
muda juga berperan penting dalam mendorong inovasi di berbagai bidang. Dengan
keakraban mereka terhadap teknologi terkini dan kemampuan adaptasi yang tinggi,
generasi muda dapat menciptakan terobosan-terobosan baru yang mengubah cara
kita hidup dan bekerja. Inovasi yang dihasilkan oleh generasi muda tidak hanya
terbatas pada bidang teknologi, tetapi juga mencakup inovasi sosial yang
bertujuan untuk mengatasi tantangan-tantangan masyarakat secara kreatif.
Generasi muda
bukanlah entitas kosong tanpa visi dan orientasi, bukanlah elemen yang pasif
dan acuh terhadap dinamika bangsa negara. Generasi muda menjadi salah satu
esensi masif masyarakat yang bergeliat mengoperasikan peradaban masa kini.
Menjadi sebuah populasi yang memiliki kekuatan ekstensif bagi perubahan sebuah
tatanan (agent of cange).
Berdasarka data
pada tahun 2020, dinyatakan bahwa jumlah generasi muda pada linkup gen Z
mencapai 27,94 % atau sekitar 74,93 juta jiwa. Hal ini menandakan bahwa jumlah
generasi potensial dan siap untuk diberdayakan tidaklah sedikit, tentu
pemberdayaan ini dimulai dari sistem yang memberi akomodir, facility, dan
regulasi pada perkembangan generasi.
Terlebih lagi
Indonesia sedang mengalami bonus demografi, dimana jumlah penduduk usia
produktif (15-64 tahun) lebih besar daripada usia non-porduktif, yaitu sekitar
69,51 % atau sekitar 190-an juta, hal ini menjadi proyeksi besar bagi
pemerintah dimana pada rentan 10-20 tahun kedepan menjadikan indonesia kuat
secara ekonomi dan kuat pada sektor lain.
Berdasar pada
narasi diatas, tentu potensi dan kekuatan masif generasi muda tidaklah patut untuk
diabaikan, tersia-sia, atau tidak terurus. Pemerintah sebagai center of
system tentu tidak boleh diam dan membiarkan generasi muda berdinamika dengan
prosesnya sendiri, pemerintah perlu untuk memfasilitasi beragam pergerakan,
alokasi daya, dan ruang berpikir generasi muda untuk memanifestasikan
produktivitasnya.
Berdasarkan
beberapa identifikasi dan pengamatan penelitian, menyatakan hambatan pada akses
sumber daya ditemukan keterbatasan dan kurangnya platform untuk partisipasi
bermakna bagi generasi muda. Untuk memaksimalkan kontribusi generasi muda,
diperlukan kebijakan yang mendukung dalam alokasi investasi engembangan
kapasitas mereka. Mungkin tidak sedikit ditemukan potensi-potensi yang belum
termanfaatkan secara optimal, sehingga perlu adanya kajian mendalam mengenai
kontribusi pemuda dalam konteks pembangunan sosial dan inovasi.
Investasi pada
sumber daya manusia, pendidikan, dan lapangan kerja menjadi sangat penting agar
potensi generasi muda dapat terangkum dan terdistribusi maksimal sehingga tidak
justru menjadi beban.
Accommodate
Pemegang sistem
perlu untuk mewujudkan tindak lanjut berdasar dari kepekaan sosial terhadap
potensi generasi muda. Merujuk pada keberlanjutan, akomodasi adalah sebuah
bentuk penyesuaian terhadap kebutuhan. Dalam konteks antropologi, akomodasi
adalah penyesuaian manusia dalam kesatuan sosial untuk menghindari dan
meredakan ketegangan dan konflik dalam interaksi. Sebagai sebuah kata kerja,
akomodasi berarti menyediakan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan.
Berdasarkan pada
pengertian tersebut, akomodasi memiliki arti sebagai sebuah usaha penyesuaian
dan pemberian kebutuhan terhadap beberapa persoalan. Dalam konteks sistem,
pemegang sistem dengan kata lain pemerintah diharap mampu memberikan sebuah
ketertunjangan akan kebutuhan generasi muda dalam memecahkan beragam tuntutan
peradaban dan permasalahan.
Akomodasi dapat
menyisir di setiap sendi kebutuhan generasi dalam proses dan aktualisasi diri,
seperi akomodasi dalam proses belajar, peningkatan kompetensi, penyediaan ruang
ekspresi diri, penyediaan ruang kompetisi prestasi, penguatan literasi,
pendampingan alokasi usaha, pemberian fasilitas publik, hingga penjaminan
profesi.
Akomodasi
proses belajar dimaknai sebagai langkah penunjangan sistem pendidikan,
dimana istilah pendidikan yang belum merata selalu menjadi diskursus yang belum
terselesaikan. Pemangku sistem tentu nyata adanya untuk selalu mengusahakan
pemerataan pendidikan tidak hanya dari segi kuantitas namun juga kualitas.
Tidak hanya merata namun pendidikan juga harus terjangkau, dimana setiap elemen
masyarakat mampu merasakan fasilitas pendidikan yang tidak pandang bulu.
Pembangunan
sistem pendidikan diharap selalu menyasar pada akses keterjangkauan, perbaikan
fasilitas, orientasi kurikulum hingga orientasi penjaminan pemberdayaan
lulusan. Mengingat rendahnya kontribusi pendidikan terhadap GDP Indonesia yaitu
hanya 3,8 %, dari total 20% anggaran APBN yang dialokasikan untuk sektor ini.
Sebagai ruang dasar bagi generasi muda, pendidikan perlu menjadi akomodasi
prioritas yang mengorientasikan pemantapan kesiapan generasi muda untuk terjun
menghadapi tuntutan zaman, menyangkut kematangan berpikir dan menyumbang
keputusan, kebutuhan pasar profesi hingga kesejahteraan finansial.
Akomodasi
peningkatan kompetensi menjadi langkah impresif bagi pemangku sistem untuk
meningkatkan kualitas generasi muda dalam menunjang kesiapan mereka mengarungi bursa
peradaban. Tidak dapat dipungkiri bahwa bakat dan potensi yang mumpuni menjadi
daya tawar menawan bagi beragam sektor. Peningkatan di ranah tersebut menjadi
penting adanya, dengan usaha penyediaan ruang pendidikan, pelatihan, dan
pemberdayaan yang bersifat publik.
Peningkatan
potensi dapat menyasar pada peningkatan intelektualitas yang memuat kemampuan
berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan problem solving. Potensi
kepemimpinan dengan muatan tanggungjawab, integritas, loyalitas, dan
inspiratif. Potensi sosial dengan muatan interaksi positif dan empati. Potensi
kreatifitas yang memuat beragam bidang seperti kesenian, sastra, dan produksi
barang bernilai. Potensi fisik dan olahraga yang memuat peningkatan kesehatan
fisik, kebugaran, dan prestasi. Potensi digital teknologi sebagai wujud dari
sikap adaptif dan responsive terhadap kemajuan zaman. Potensi ekonomi dengan muatan
kemandirian usaha dan kemampuan memanfaatkan peluang ekonomi. Dan tak lupa
potensi yang memuat penguatan kharakter dan moralitas.
Penyediangan
ruang ekspresi diri sebagai sarana penuangan aspirasi progresif generasi
muda yang kemudian didengar dan ditindak lanjuti. Raung ekspresi menjadi
penting mengingat generasi muda masa kini semakin ekspresif dan multitasking,
sehingga sangat disayangkan jika aspirasi generasi muda tidak terwadahi.
Aspirasi tersebut mendorong terciptanya new mind atau pola pikir baru
yang lebih segar untuk membenahi peradaban dimasa mendatang dan mengejar
ketertinggalan, daripada old mind yang semakin using dan semakin kurang relate
dengan perkembangan zaman.
Penyediaan
ruang kompetisi prestasi, sebagai sarana untuk mewadahi sekaligus
melejitkan potensi generasi muda yang nantinya dapat bersaing dalam proses
pergelaran prestasi. Juga sebagai sarana peningkatan esensi dan eksistensi
potensi yang nantinya berbuah pada experience dan portofolio.
Akomodasi
penguatan literasi. Literasi menjadi salah satu tonggak dan fondasi utama
penentuan konsep berpikir dan pengambilan keputuasan pada masa kini. Kekuatan
literasi menjadi salah satu penentu penetrasi berpikir masyarakat masa ini.
Semakin masyarakat minim literasi, maka semakin instan pula konsep berpikir dan
pengambilan keputusan untuk penentuan sikap pada segala fenomena masa kini.
Literasi menjadi proses penentu filterisasi pada semua dampak dan pengaruh
budaya global yang tentu semua tidak bisa di resapkan pada kharakter nusantara.
Generasi masa
kini penting untuk mendapatkan akses pemahaman dan pelatihan terhadap
keterampilan literasi khususnya dengan basis digital. Generasi masa kini
menjadi konsumen utama digitalisasi, dengan itu banyak informasi yang berlalu
lalang di depan mereka. Informasi yang kredibel tidak selalu menjadi menarik,
sehingga riskan didapati jika informasi negative dan provokatif mampu meracuni
pemikiran generasi muda, sehingga penting generasi untuk bijak dalam mengamini
segala macam informasi yang dikonsumsi. Penting juga untuk bijak mengisi dan
menguasai beragam portal digital dengan substansi positif, konstruktif, dan
inovatif. Kebijakan sistem perlu untuk menciptakan, mendukung dan memberdayakan
kecakapan digital sejak dini, orientasi digital global productivity, coding¸
dan cyber native.
Akomodasi
pendampingan kewirausahaan menjadi penting guna membekali generasi muda
untuk siap mencapai tahap kesejahteraan ekonomi dimasa mendatang. Bentuk
akomodasi dapat berupa penyediaan ruang untuk stimulus kreatif dan inovatif
guna men-trigger generasi agar mau dan mampu menggeluti peluang usaha. Penyediaan
sektor yang menciptakan peluang usaha kecil. Penyediaan mentor atau tokoh
inspiratif publik untuk memberikan dorongan positif keilmuan melalui portal
pelatihan atau konten digital yang bisa diakses semua kalangan. Penyediaan incubator
bisnis, akses pasar, dan bantuan modal beserta pendampingan intensif.
Akomodasi
fasilitas publik kepemudaan menjadi langkah intensif dan jangka panjang
bagi pembangunan habit generasi muda. Seperti penyediaan fasilitas
publik berbasis pemuda sebagai pusat kreasi, fasilitas olahraga, dan ruang
kesenian. Juga pengadaan, pemeliharaan, dan pemberdayaan organisasi atau
komunitas kepemudaan sebagai sarana ekspresi, upgrading, dan ruang berpikir
orientatif kontekstual.
Akomodasi
penjaminan profesi. Terjaminnya profesi menjadi nafas esensial bagi
golongan muda yang notabenenya adalah individu yang masih mulai meniti kehidupan
sebenarnya. Dalam proses tersebut, menjadi sebuah perhatian bahwa pemuda
dituntut untuk memenuhi tuntutan sosial dengan kepemilikan keterampilan. Generasi
yang siap skill makai ia akan terpanggil, sebaliknya itu generasi yang kurang
asah dan mahir maka ia akan tereliminir. Oleh sebab itu, pemerintah berperan untuk
menyediakan fasilitas pelatihan keterampilan, pelatihan kerja dan orientasi
sertifikasi kerja, dengan tujuan untuk menumbuhkan dan mengasah keahlian
generasi muda yang nantinya diakui secara mutlak oleh kalangan serta ready
to use di banyak tuntutan pasar kerja.
Tidak hanya
progam pelatihan, pemerintah penting untuk berperan sebagai penyelenggara progam
pemberian kesempatan kerja. Potensi dan keterampilan yang diasah perlu untuk
disalurkan dan diberi kanal akses untuk alokasi profesi. Progam kesempatan
kerja tersebut bisa berupa penyediaan progam magang dan rekrutmen formasi pegawai
negeri sipil atau kontrak yang lebih masif.
Sebelum melangkah
pada tahap momentum kerja, lebih fundamental adanya untuk meningatkan akses pendidikan
dan memperbanyak progam beasiswa yang lebih terspesifik pada keterampilan
generasi muda secara masif. Hal ini bertujuan untuk membangun kompetensi pemuda
sedari dini dengan alokasi mutu pendidikannya.
Sektor bisnis menjadi
koloseum finansial yang juga sangat perlu didukung pemerintah dalam peaksanaan
kebijakannya. Progam dukungan wirausaha kepada generasi muda menjadi penting
adanya karena ibarat musim semi tak akan semerbak tanpa air yang memberikan
nutrisi pada bumi. Dukungan terhadap wirausahwan muda perlu ditingkatkan lebih
masif dan itensif guna memunculkan pionir ekonomi bagiperadaban di masa
mendatang. Progam dukungan tersebut dapat berupa bantuan sistemasi modal,
pendampingan usaha guna melatih kecakapan manajerial, dan inkubasi bisnis.
Yang terakhir
adalah kebijakan yang mengarah pada fasilitasi terhadap profesi masa kini.
Profesi masa kini yang dimaksud menyangkut pekerjaan yang berbasis teknologi
masa kini missal seperti konten kreator, digital marketer, desainer, programmer,
atlet E-Sport dll. Sebut saja konten kreator menjadi salah satu kegiatan
indoor yang dapat menghasilkan, anak muda hanya perlu menatap kamera, recording,
editing, dan upload di sosial media. Hal ini dapat menjadi salah satu lahan finansial
yang tentu tidak boleh diacuhkan oleh pemerintah untuk pemberdayaan dan
pengawasannya, pemberdayaan dalam fasilitasi kebijakan supportive dan
pengawasan mutu konten keberlanjutan.
System Upgrade
System
upgrade adalah suatu proses peningkatan pada sebuah tatanan agar menjadi
lebih baik, lebih baru, dan lebih optimal dibandingkan versi sebelumnya. Sistem
yang ditingkatkan berarti melakukan pembaharuan atau peningkatan kualitas, fitur,
kinerja, dan dampak positif dari sebuah subjek sistem. Jika menyangkut sasaran
sistem, tentu peningkatan ini bertujuan untuk meningkatkan pula kualitas, mutu,
output, peran dari objek sistem tersebut. Dengan arti, usaha peningkatan
ini termanifestasi dalam sebuah layanan oleh
pemegang sistem (pemangku kebijakan). Berikut menjadi sebuah manifes upgrade
yang perlu diupatakan para pemagku kebijakan alias pemerintah.
Peningkatan
pemberdayaan organisasi masyarakat dan pemuda. Organisasi masyarakat
menjadi wadah berkumpulnya lapisan masyarakat yang tidak hanya untuk sekedar
menyampaikan aspirasi dan sautan hati namun juga langkah awal untuk menyodorkan
inovasi sosial. Organisasi masyarakat juga menjadi tempat bagi generasi muda berperan
aktif untuk turut mengusahakan lingkungannya, sebagai individu bergaya imaginer
namun dibalik itu terselip ide pembaharu yang segar. Peningkatan wadah
masyarakat perlu diperhatikan dan ditingkatkan oleh pemangku kebijakan, mengingat
organisasi sebagai mobilisator terbaik suatu populasi.
Peningkatan tersebut
dapat berupa akomodasi operasional, pendampingan akseleratif, pemberdayaan kader
muda, dan fleksibilitas power acces untuk keterlibatan pada pengambilan
kebijakan. Telah terbukti bagaimana organisasi masyarakat telah memobilisasi plot-plot
detail ideologi yang berkembang di masyarakat. Organisasi mengelompokkan Haluan
setiap masyarakat, dimana dalam hal ini organisasi yang bersinergi dengan
kepentingan maslahat (apalagi organisasi pemuda) perlu untuk dibina dan diakomodir
menyusuri setapak-setapak keputusan sosial dalam setiap kebijakan.
Peningkatan sistem
yang mendukung keterlibatan pemuda dalam ranah politik dan ekonomi. Generasi
muda sangat perlu untuk terlibat dalam berbagai kondisi peradaban, sektor, dan
isu. Terlebih dalam politik dan ekonomi, generasi muda masa kini perlu
mengambil peran dan perlu diperankan oleh pemangku kebijakan. Generasi muda
memiliki sense of reformer yang besar dalam pembangunan. Bukan saja
karena pemuda sebagai lapisan masyarakat paling besar tetapi yang paling
penting adalah tanpa potensi dan kreativitas generasi muda, maka pembangunan
akan dapat kehilangan arah.
Berdasarkan
Undang-undang nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan mengamanatkan kepada
pemerintah daerah yakni gubernur/bupati/walikota wajib melaksanakan pelayanan
kepemudaan yang tujuannya diarahkan untuk pembangunan (pasal 7). Untuk mencapai
tujuan tersebut sangat diperlukan peran pemerintah serta semua lapisan
masyarakat terutama generasi muda yang perlu dipersiapkan sebaik-baiknya.
Pada ranah politik,
para pemangku kebijakan perlu untuk memahamkan pemahaman politik, memberi
peluang, dan memberdayakan potensi pemuda dalam setiap pemuatan aspirasi.
Pemuda perlu dilibatkan dalam perumusan kebijakan politik, karena pemuda tidak
hanya sebagai objek namun subjek pembangunan khususnya pada visi pembangunan
berkelanjutan. Pemuda masa kini perlu dipahamkan akan pendidikan politik dan
literasi demokrasi sejak dini. Kemudian memberi hak untuk konsultasi politik
dan penciptaan ruang regenerasi pada setiap sistem public. Serta mendapat
perlindungan dari diskriminasi dan intimidasi politik.
Pada ranah
ekonomi, pemuda perlu dukungan, motivasi, dan pendampingan wirausaha yang berkelanjutan.
Pemangku kebijakan juga perlu mengadakan investasi signifikan dan penguatan pada
ranah industri eknonomi digital kreatif, mengingat generasi muda masa kini
menjadi salah satu pengguna utama platform digital dengan kapasitas kreasi yang
lebih mumpuni daripada generasi sebelumnya.
Pemindahan
basis orientasi dan peningkatan sistem digital yang masif serta berbasis data. Pergerakan
peradaban yang mengarah pada berkembang pesatnya teknologi digital, tentu menuntut
setiap sistem untuk diupgrade mengikuti kebutuhan kemajuan. Segala sendi
kehidupan yang semula manual dipindah orientasikan kearah by digital system.
Sistem berbasis perlu digalakkan khususnya bagi layanan generasi muda. Hal ini
bertujuan agar generasi muda masa kini tidak tereliminasi oleh zaman, mengingat
generasi masa kini dituntut untuk memiliki kecepatan akses (fast acces),
fast present, transparan, dan by data. Dengan ini, tentu bukan hanya
basis teknologi saja yang mengalami peningkatan, namun kompetensi digital
generasi muda juga harus dibina dan diaplikasikan lebih lanjut.
Peningkatan
mutu dan sinkronisasi pendidikan dengan dunia kerja. Pendidikan tetap
menjadi sistem utama dan paling fundamental bagi kompetensi generasi, generasi
yang cerdas dan bijak merupakan hasil dari pendidikan yang berhasil. Sistem
pendidikan perlu diperbarui agar selaras dengan kebutuhan industri, melalui Kurikulum
berbasis kompetensi dan proyek. Penguatan pendidikan vokasi dan magang industry
perlu dilaksanakan secara intens guna meningkatkan pengalaman kontekstual dan
faktual generasi demi peningkatan kepercayaan diri serta kesiapan mereka pada pasar
kerja.
Peningkatan kualitas
ekosistem masyarakat seperti aspirasi untuk peluang presisi. Pemerintah
atau pemangku kebijakan sangat perlu untuk menciptakan ekosistem masyarakat
yang senantiasa bersinergi dan sejalan dengan progam pemerintah, tentu disini
pemerintah menetapkan posisi sebagai tangan panjang dari kepentingan masyarakat
luas. Ekosistem ini ditandai dengan pendampingan pemerintah secara intens
menilik segala opsi, opini, aspirasi, kritik, dan saran masyarakat dari akar
rumput paling dasar. Pemerintah perlu menyisir suara masyarakat (khususnya
generasi muda) dan menciptakan sistem yang saling sahut-menyahut untuk
menciptakan satu visi bersama dan inovasi presisi.
Supervise
Setelah
melakukan berbagai upaya akomodasi dan eksekusi peningkatan sistem dengan
berbagai kebijakan inovatif, pemerintah perlu melakukan supervise atau
pengawasan secara berkala dan bekelanjutan. Pengawasan ini bertujuan agar
kebijakan yang ditujukan untuk generasi tidak stagnan ataupun lambat. Ibarat
saluran air yang harus diperiksa secara berkala agar tidak tersumbat oleh
sampah dan kerikil, pemerintah perlu melakukan penyisiran intensif pada
pelaksanaan dan ketercapaian progam.
Pengawasan
dalam konteks administrasi publik adalah proses sistematis untuk memastikan
bahwa pelaksanaan tugas dan program pemerintahan berjalan sesuai dengan
standar, prosedur, dan regulasi yang berlaku. Menurut Gibson , pengawasan
mencakup aktivitas pengukuran kinerja, perbandingan dengan standar, dan
tindakan korektif jika ditemukan penyimpangan. Dalam birokrasi publik,
pengawasan memiliki fungsi strategis sebagai instrumen akuntabilitas dan kontrol
perilaku aparatur, khususnya dalam membentuk disiplin kerja.
Pengawasan
pemerintah dapat diklasifikasikan dalam pengawasan preventif (dilakukan sebelum
kegiatan dimulai untuk mencegah pelanggaran), pengawasan represif (dilakukan
setelah kegiatan berlangsung untuk mengevaluasi hasil), dan pengawasan langsung
(dilaksanakan oleh atasan langsung terhadap sektor akar rumput. Pengawasan
tidak langsung: dilakukan melalui laporan administratif atau audit internal)
Pengawasan
memiliki korelasi potisif terutama pada kedisipinan dan ketepatan sasaran dalam
pelaksanaan progam. Konteks tersebut tidak hanya menyasar pada subjek sistem
yang ditingkatkan melaikan juga objek sistem yang tersasar. Bagaimana indeks
pencapaian, kesejahteraan, mutu keberlanjutan, dan progressivitas objek perlu
untuk selalu dikondisikan bahkan didisiplinkan agar sesuai koridor.
Pengawasan juga
bertujuan untuk menciptakan budaya yang akuntabel, sistematis, dan periodic sehingga
baik subjek maupun objek sistem juga terkondisikan dan terpimpin sesuai dengan haluan
tujuan yang dicapai. Terkhusus bagi generasi masa kini, pengawasan pendampingan
dan pemberdayaan perlu diiringi dengan pembinaan dan evaluasi berkala sehingga
indikator ketercapaian bisa tepenuhi bahkan selalu ditingkatkan menyesuaikan
tuntutan pasar industri masa kini.
Pemerintah perlu
menyalurkan delegasi pengawasan di setiap sektor secara masif dan intens. Sektor
yang dimaksud melingkupi organisasi masyarakat dan kepemudaan. Juga sektor
pelayanan publik di berbagai ranah konvensional kehidupan.
REFERENSI :
Taufiqurokhman dkk. 2023. “Kebijakan
Pemerintah Memajukan Kualitas Sumber
Daya Manusia Unggul”. Jakarta :
Universitas Muhammadiyah Jakarta. SWATANTRA. Vol.
XX No. 2.
















0 Comments